Oleh: Amirullah Syahruddin
(Eks Penyuluh Budaya Kemendikbud Ristek RI/Ketua Yayasan Matankari Nusantara)
SEJARAH Seringkali menyimpan pelajaran besar bagi kita semua, terutama dalam memahami kebijakan dan keputusan yang menyentuh hati rakyat. Salah satu kisah inspiratif dari Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah ketika ia menghadapi delegasi tokoh Papua yang saat itu masih dikenal sebagai Irian Jaya.
Dalam pertemuan tersebut, Gus Dur tidak langsung menolak keinginan delegasi yang ingin memisahkan diri dari NKRI. Sebaliknya, ia bertanya dengan bijak, “Jika tidak berpisah, apa yang kalian inginkan?” Jawaban mereka sederhana: “Kami ingin kembali menjadi Papua.” Dengan pemahaman yang mendalam terhadap akar persoalan, Gus Dur segera mengabulkan keinginan itu. Dalam sekejap, nama Papua kembali menjadi identitas yang melekat pada masyarakatnya.
Langkah Gus Dur menyelesaikan permasalahan ini tanpa konflik fisik atau konfrontasi adalah contoh kepemimpinan yang berlandaskan pada kearifan, empati, dan pemahaman sejarah. Bagi Gus Dur, solusi terbaik adalah yang mampu menjaga kehormatan dan nilai masyarakat tanpa merusak harmoni yang ada.
Menilik Kembali Sejarah Sumatera Tengah
Seperti halnya Papua, Provinsi Riau, yang terbentuk pada tahun 1957 setelah berpisah dari Provinsi Sumatera Tengah, menyimpan sejarah dan nilai budaya yang kaya. Sumatera Tengah dahulu merupakan kawasan yang mencakup Riau, Sumatera Barat, dan Jambi. Wilayah ini dikenal sebagai lumbung adat dan budaya kaum matrilineal, satu-satunya di dunia yang kawasannya berbasis sistem kekerabatan ibu.
Sistem matrilineal ini tidak hanya menjadi pola sosial masyarakat tetapi juga terpatri dalam sistem kedatuan yang berpusat di kompleks Candi Muara Takus, sebuah situs sejarah yang menjadi simbol kejayaan budaya di kawasan ini. Sistem kedatuan tersebut memiliki soko pisoko jo limbago, struktur adat yang kokoh dan menjadi panduan bagi kehidupan masyarakat di wilayah itu.
Di sepanjang bantaran sungai besar yang membelah wilayah ini, masyarakat adat yang dikenal sebagai batin-batin hidup dan menjaga tradisi leluhurnya. Keempat kelompok adat berbatin yang mendiami kawasan ini adalah:
1. Batin Bonai di sepanjang Sungai Rokan,
2. Batin Sakai di sepanjang Sungai Siak,
3. Batin Petalangan di Sungai Kampar, kurang oso nan tigo puluo Ghajo bilang bungsu
4. Batin Talang Mamak di Kuantan-Indragiri, batin nan kurang oso nan duo puluo
Keempat kelompok ini hidup dalam harmoni dengan alam dan menjalankan adat istiadat berdasarkan nilai-nilai matrilineal, yang menjadikan kawasan Sumatera Tengah sebagai pusat peradaban budaya matrilineal yang unik di dunia.
Urgensi Mengembalikan Nama Sumatera Tengah
Mengembalikan nama Sumatera Tengah bukan hanya soal mengoreksi sejarah, tetapi juga mengakui nilai pluralisme dan keberagaman budaya. Pluralisme berarti menghargai setiap identitas yang ada dalam masyarakat, tanpa menghilangkan atau merendahkan nilai-nilai lokal.
Penamaan sebuah wilayah bukan sekadar identitas administratif, tetapi juga simbol kebanggaan dan pengakuan terhadap sejarah serta kebudayaan masyarakatnya. Jika Papua bisa kembali pada identitasnya, mengapa Sumatera Tengah tidak?
Kembalinya nama Sumatera Tengah akan menjadi pengakuan atas warisan budaya dan sejarah masyarakat yang hidup di sepanjang batang-batang sungainya. Di sini, nilai-nilai matrilineal dan sistem kedatuan yang diwariskan di kompleks Candi Muara Takus akan tetap terjaga sebagai warisan budaya yang tak ternilai harganya.
Dengan mengembalikan nama ini, kita tidak hanya memberikan penghormatan kepada masyarakat adat yang menjaga tradisi leluhur mereka, tetapi juga memperkuat semangat persatuan dalam keberagaman. Gus Dur telah memberikan teladan bagaimana menghargai aspirasi rakyat dan sejarah bangsa. Semoga semangat itu dapat terus kita lanjutkan demi masa depan Indonesia yang lebih inklusif dan berkeadilan.
Tulisan ini merupakan ajakan untuk refleksi bersama dan evaluasi terhadap nama dan identitas wilayah yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Indonesia.












