Info
MetroMadani.com adalah portal berita, hiburan, dan informasi | tegas | lugas | tepercaya |

Agar Tak Terjadi Kegaduhan, Dinsos Diminta Perbaiki Data KPM Subsidi BBM

Ilustrasi kenaikan BBM/foto: ist

RENGAT, MetroMadani – Sebagai bentuk pengalihan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) Pemerintah Pusat dalam hal ini, Kementerian Sosial (Kemensos) menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai penguat bantalan sosial kepada 20,65 juta keluarga penerima manfaat (KPM).

Adapun BLT BBM diberikan sebesar Rp150.000 perbulan selama empat bulan dengan penyaluran dua kali.

Dengan BLT BBM itu, sudah barang tentu jutaan masyarakat Indonesia pasti sudah menunggu dana itu segera disalurkan. Namun, dibalik kebijakan itu pula, kini menuai kontroversi dari berbagai pihak. Salah satunya mengenai data KPM yang diberikan oleh Kemensos melalui Dinas Sosial tidak tepat sasaran.

Hal itu seperti yang dikeluhkan oleh salah seorang Kepala Desa (Kades) yang ada di Kecamatan Batang Cenaku Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), yakni Kades Petaling Jaya, Heriantoni Sembiring, Senin (12/9/2022) ditemui diruang kerjanya.

TERKAIT:  BBM Kosong, Masyarakat Mengaku Mulai Kelimpungan

Menurut dia, Pemutakhiran data ataupun perbaruan data penerima subsidi BBM oleh pemerintah sudah dilakukan oleh pihaknya. Akan tetapi, data yang diterima dari Dinas Sosial tetap menggunakan data lama. Dengan demikian, dirinya kawatir jika data PKM di Desanya akan menimbulkan kecemburuan sosial dan kegaduhan di tengah warganya.

“Mereka (Dinsos-red) seperti hanya main tembak diatas kasur,” kata Sembiring.

Dengan sistem main tembak diatas kasur, lanjut Sembiring, daftar para KPM muncul nama Warga masyarakat yang sudah tidak layak menerima bantuan subsidi tersebut.

“Warga yang beberapa tahun lalu masih dalam kategori tidak mampu, saat ini sudah dapat dibilang naik jenjang finansialnya (ekonomi). Dan mereka dalam bantuan BLT BBM masih masuk data kambali,” ucap Sembiring.

TERKAIT:  268.363 KPM Pekanbaru Terima BLT Dampak Kenaikan BBM

Masih kata Sembiring, dirinya mewanti wanti dengan data yang diberikan oleh Dinsos Kabupaten Inhu, akan berdampak pada sistem menurutnya kepercayaan publik kepada Pemerintah Desa.

“Masyarakat yang tidak menyadari, maka mereka akan menuding jika kami Sebagai aparatur Desa tebang pilih dalam menginput data para penerima BLT BBM ini,” ujarnya.

Oleh karenanya, dirinya mengaku kecewa dengan kinerja Dinas Sosial Kabupaten Inhu terkait data tersebut. Dan berharap kedepannya Dinsos lebih teliti dalam hal Bansos BLT BBM ini.

“Jangan sampai kami jadi tumbal seperti BLT DD yang sudah berjalan. Data dari Dinsos, namun kami yang dituding oleh masyarakat jika hanya orang orang terdekat aparatur Desa yang memperoleh Bantuan itu. Padahal itu tidak benar, ” tutup Sembiring. (Har)

Settia