Info
MetroMadani.com adalah portal berita, hiburan, dan informasi | tegas | lugas | tepercaya |

Gas Air Mata Ditembakkan, Kenapa Pintu Darurat Dikunci?

Pintu keluar di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, yang disebut banyak memakan korban jiwa Sabtu (1/10/2022)/foto: ist

JAKARTA, MetroMadani – Saat pihak keamanan menembakkan gas air mata untuk mengurai konsentrasi massa, ternyata dari delapan pintu darurat (emergency exit) di Stadion Kanjuruhan hanya dua yang dibuka, itupun digunakan untuk jalur evakuasi pemain Persebaya. Keadaan demikian membuat suporter terkurung di dalam gas air mata yang menyebabkan kepanikan dan banyaknya korban jiwa.

“Pintu emergency dari 8, yang terbuka hanya 2, itu pun untuk jalur evakuasi pemain Persebaya,” ujar Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Polri Irjen Dedi Prasetyo, Jumat (7/10/2022).

Enam pintu lainnya, lanjut Dedi, terkunci dan tidak dapat difungsikan. Dia menyinggung kelalaian dari panitia pelaksana (panpel).

“Panpel PT LIB (Liga Indonesia Baru) tidak melakukan audit kedaruratan,” imbuh Dedi.

TERKAIT:  Edarkan Sabu, Dua Pemuda Buluhrampai Dibekuk Polsek Seberida

Lebih lanjut Dedi juga mengirim sebuah foto yang diklaimnya sebagai pintu yang banyak memakan korban jiwa dalam tragedi Kanjuruhan.

Terlihat pintu keluar itu digaris polisi atau police line berwarna kuning. Pintu keluar itu terlihat terletak di tengah-tengah tribune penonton berwarna merah dan biru. Ada tulisan ‘Pintu 12’ di bagian atasnya.

Di sekitarnya, tampak ada beberapa sampah yang masih berserakan. Terlihat pula ada dua petugas kepolisian dalam foto tersebut.

“Inilah TKP yang banyak memakan korban karena kontingensi dan emergency plan enggak jalan,” jelas Dedi dilansir kompas.com

Sebagaimana diketahui, tragedi Kanjuruhan terjadi usai laga Arema versus Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, pada Sabtu (1/10/2022) malam.

TERKAIT:  Diduga Bawa Sabu 2kg, ABK Asian Jaya ditahan Polres Meranti

Kejadian itu membuat banyak korban meninggal dan luka-luka. Dugaan sementara, para korban terinjak-injak suporter lain, serta sesak nafas akibat semprotan gas air mata jajaran keamanan.

Tragedi ini menjadi terbesar kedua di dunia sepanjang sejarah olahraga di stadion. Jumlah korban tewas sebanyak 131 orang.

Berdasarkan data Kementerian PPPA, dari total yang meninggal, 33 di antaranya merupakan anak-anak berusia 4-17 tahun. (del)

Settia