Info
MetroMadani.com adalah portal berita, hiburan, dan informasi | tegas | lugas | tepercaya |

Dirikan Ponpes Bermodalkan Semangat Pantang Menyerah

KUBANGRAYA, MetroMadani – Berawal dari semangat pantang menyerah dan tekad yang kuat untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan pondok pesantren (Ponpes), kemudian ditambah rasa keprihatinan yang mendalam terhadap ummat akan pemahaman agamanya hari ini, hanya menyandang status sebagai muslim, tapi kosong pengamalan agama sehari hari.

Itulah yang membuat nyali H Eshamadi Duraman Lc MH bertekad kuat mendirikan sebuah pondok pesantern. Padahal kata pria berasal dari XII Koto Kampar ini, dirinya tidaklah memiiki modal yang cukup dan kuat, tapi berbagai upaya ia lakukan pada tahun 2014 itu, seperti menjual kebun sawit, mobil, honda bahkan menggadaikan SK istri pun dilakukan agar berdiri sebuah wadah pendidikan ini.

‘’Itulah modal awal kita beli tanah sekitar ini. Setelah tanah kita beli, lagi lagi tak cukup modal untuk membayar orang membersihkan lahannya, maka saya sendiri yang turun menebang dan menebas semak semak sekitar. Ada foto dan videonya saya simpan. Bahkan, pernah hampir saja semak semak kering itu dibakar kemudian menjalar ke perumhan samping. Alhamdulillah, takdir Allah menghendaki api itu padam saat itu,’’ Eshamadi menceritakan kisa awal ia memulai pendirian pondok.

Bekal Pengalaman dari Pondok Pesantren Mertua


Sebelumnya, Abuya Eshamadi sudah sekian tahun mengasuh pondok pesantren Ubudiatussalam di Lipat Kain, Kampar Kiri, yang tak lain adalah milik sang mertua saat itu. Namun kurang perkembangannya maka ia kembali serahkan ke mertua dan ia berniat membangun pondok pesantren sekitar Kubang Raya tersebut.

‘’Setelah tiga tahun menempuh pendidikan di Mesir, saya pulang dan menikah karena mertua saat itu sudah menyiapkan pondok pesantren untuk kita kelolah, setahun kemudian saya berangkat kembali ke Mesir untuk menyelesaikan studi , kemudian kembali ke Indonesia dan mengasuh pondok kembali,’’ lanjutnya mengisahkan.

Meskipun mertua sendiri memliki lembaga pendidikan Ponpes dan secara ekonomi tentunya mapan, tapi tidak membuat Abuya Eshamadi dimanjakan dan dimodali untuk membangun lembaga Ponpes. Justru dari situ, alumni Ponpes Darussalam XIII Koto Kampar (Kini Kabun) banyak belajar bagaimana bisa ia memiliki lembaga pendidikan untuk ikut membantu mendidik anak bangsa dibidang keagamaan.

‘’Alhamdulillah, dengan keberanian untuk kita mandiri ini. Sekolah kita terus berkembang, sebab pemerintah juga saat ini ikut membnatu seperti adanya pembiayaan lewat dana BOS, dan bantuan bantuan infrastruktur lain bisa kita dapatkan,’’ sebut Abuya.

2015, Yayasan Ar-rummani Berdiri

Tahun 2014 itu juga, katanya, pihaknya mulai angsur-angsur membangun, karena kembali tersandung pembiayaan maka dirinya langsung bekerja membuat pondasinya, mengggali tapak gajah, merakit besi dan pekerjaan tukang lainnya bersama tukang lain juga yang ia bayar ala kadarnya.

‘’Saat itu, saya memamg kesusahan, sampai dalam sehari pun makan hanya satu kali, sore makan supermi dan itu selama tiga bulan lamanya saya lakukan. Pokoknya tekad kita pondok kita ini berdiri. Begitulah kuatnya kita ingin segera berdiri dan menerima santri,’’ ujar alumni Al Azhar, Kairo, Mesir ini dengan semangat pantang menyerah.

Berkat kegigigan serta kerja kerasnya maka tahun 2015 tiga ruang pondok pun selesai, meskipun dengan kondisi yang sangat sederhana, tapi sudah bisa tahun berikutnya menerima santri dan santriwati. ‘’Maka kita mulai beri nama pondok kita ini tahun 2015 itu dengan nama Ponpes Ar-rummani Boarding School perpaduan nama istri,’’ cetusnya.

‘’Alhamdulillah, tahun pelajaran 2016/2017 kita mulai menerima santri dan adalah saat itu 14 orang santri dan santriwati dari masyarakat sekitar yang masuk ke sekolah kita sebagai anak perdana. Mereka semua mondok, kita gunakan satu ruangan untuk tempat tinggal, termasuk disitu saya dan enam orang guru lainnya,’’ ungkapnya mengingat.

Dikatakan Eshamadi, seiring berjalannya waktu pihaknya terus berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas pendiidikan dan program mondok, baik dengan menambah ruang maupun jumlah santri dan santriwati yang terus bertambah dari tahun ke tahun.

‘’Sebagaimana layaknya sekolah-sekolah pondok, kita memiliki ciri khas. Ada tiga yang menjadi khas kita itu, yakni tahfizul quran, kitab dan ilmu umum. Inilah yang saat ini tengah kita kembangkan terus. Sementara izin pendiriannya untuk tingkat SMP dari Disdikpora dengan akreditasi A dan untuk aliyah dari Kemenag,’’ jelasnya lagi.

Sampai saat ini, dengan jumlah ruangan sudah mencapai 35 ruang, sekolah ini sudah menamatkan tiga angkatan, termasuk tahun ini, bahkan pada angkatan kedua tahun lalu ada santri yang berhasil lolos seleksi ke Timur Tengah, yakni ke Yordania. ‘’Mudah-mudahan tahun ini ada lagi anak kita ke Timur Tengah nantinya,’’ harap Buya Eshamadi.


Saat ini kurang lebih 200 santri dan santriwati dengan asuhan 24 orang jumlah guru dan semuanya mondok di sekolah yang terletak di Jalan Bupati Desa Tarai Bangun, Kabupaten Kampar tersebut.

Berbagai program dan kegiatan santri dan santriwati Ar-rummani aktif dilakukan, seperti kegiatan baris berbaris (PBB), kegiatan di labfor, olahraga futsal, volly dan lainnya. ‘’Ada sejumlah prestasi yang berhasil diukir santri dan santriwati kita, baik akademis maupun non akademis, ada ditingkat Kecamatan Tambang sendiri maupun di Kampar,’’ sebutnya.

Saat ditanya bagaimana perhatian pemerintah terhadap keberlangsungan pendidikan pondok pesantren saat ini, terutama bantuan SDM dan infrastruktur, pihaknya mengaku sudah lebih dari cukup. ‘’Antara sekolah negeri dan swasta itu pasti ada beda ya, pemerintah masih memprioritaskan negeri, seperti pengangkatan guru PPPK, yang terakomodir masih guru guru di negeri,’’ jawabnya lurus.

Ke depan pihaknya berharap, pemerintah juga mengalokasi guru yang berstatus ASN tersebut untuk ditempatkan di sekolah agama seperti pesantren dan adanya program pengangkatan guru PPPK ini di sekolah swasta, sebab tidak semua sekolah swasta yang memiliki kemampuan bagus untuk mensejahterakan tenaga pendidiknya, sehingga kehadiran pemerintah dirasakan secara merata.(buz)

Settia