KAMPAR, MetroMadani – Jalan lintas utama yang menghubungkan Desa IV Koto Setingkai-Desa Sungai Sarik, Kabupaten Kampar hancur dan lumpuh serta putus total hingga, kemarin.
Apalagi saat ini memasuki musim hujan
, mau tak mau masyarakat harus melewati jalan penuh lumpur, sebab itu satu-satunya akses jalan keluar dari desa.
Sampai saat ini Pemkab Kampar dan masyarakat di dua desa itu belum mampu melakukan upaya perbaikan. Walaupun demikian aktivitas warga mencari nafkah ke luar desa harus menembus jalan tersebut, karena desakan kebutuhan sehari-hari.
”Yang paling parah terutama Desa Sungai Sarik ini, Pak.
Hari ini, belum ada upaya yang dapat dilakukan, karena danau kawahnya terlalu besar,” sebut seorang masyarakat Desa IV Koto Setingkai, Arlizon (30).
Ironisnya, di “musim” Pemilu seperti saat ini tidak seorang pun calon legislatif, anggota Dewan yang terhormat terutama dari provinsi dan pusat melakukan tindakan nyata, memandang kondisi warga yang terisolir akibat jalannya dipenuhi lumpur dengan pertimbangan rasa kemanusiaan.
Tokoh masyarakat IV Koto Setingkai Amirullah mengaku mengutuk keras sikap Pemerintah Kabupaten Kampar yang sudah puluhan tahun membiarkan dan tidak pernah menganggarkan jalan ini dalam APBD secara serius.
”Jujur, saya mengutuk keras Pemkab Kampar yang hingga hari ini tak pernah mengurus ruas jalan ini, sudah puluhan tahun, hanya perbaikan. Jalan ini hanya 10 Km panjangnya, Pak. Ini urat nadi bagi masyarakat di dua desa bahkan hingga ke balung batas Sumbar,” ungkap Amirullah yang juga mantan aktivis Unri 98 ini.
”Ada apa dengan Pemda Kampar, pemimpinnya silih berganti setiap saat, tapi tak satu orang pun yang mau peduli pada jalan ini. Saya mengutuk mereka,” ujar Amir dengan nada tinggi.
Bahkan, sebagai putra daerah setempat, Amirullah pun sudah dua kali maju mencaleg demi harapannya bersama masyarakat se Rantau Kampar Kiri itu agar jalan ini diperbaiki.
”Berbagai upaya dulunya telah coba kami lakukan, Pak. Mulai aksi demo bersama pemuda dan masyarakat serta mahasiswa kita dari sini, bermalam di DPRD Riau, negosisasi dengan Pemprov bahkan kami pun ikut maju ke DPRD kabupaten saat itu demi satu tujuan agar ada perhatian kepada sejumlah desa didalammnya,” ingat Amir.
Ironisnya, lanjut Amir, kesempatan ini digunakan oleh pemilik kebun ratusan ha di daerah tersebut oleh pengusaha asal Tionghoa, walaupun perdana ikut andil dalam perbaikan ini, namun dianggap dewa saat ini oleh masyarakat setempat.
”Padahal hanya mengobati luka sesaat saja, yang kita butuhkan itu jalan diaspal, karena penghubung beberapa desa hingga Desa Balung,” tegas Amir.(buz)







