Oleh: Amirullah Syahruddin
(Eks Penggiat Budaya Kemendikbud Ristek RI/Ketua Yayasan Matankari Nusantara)
HAMPIR Seluruh wilayah awal di Asia Tenggara hingga Samudra Hindia memiliki akar yang kuat dari peradaban Nusantara. Tidak hanya meliputi Indonesia saat ini, tetapi jejak budaya Melayu terlihat di berbagai negara seperti Kamboja, Vietnam, Laos, Filipina, Brunei, Tumasik (Singapura), Thailand, Timor Leste, Malaysia, hingga sejauh Madagaskar di Afrika Timur.
Pusat Nusantara dan Kedatuan Muaratakus
Di tengah jaringan maritim yang menghubungkan wilayah-wilayah tersebut, pusat peradaban Nusantara berada di Kedatuan Muaratakus, yang terletak di wilayah Sumatera Tengah. Kawasan ini mencakup Jambi dan Sumatera Barat hari ini. Kedatuan Muaratakus bukan hanya pusat pemerintahan tetapi juga pusat budaya dan spiritual yang menjadi fondasi peradaban Malayu.
Ciri khas dari sistem sosial di Kedatuan Muaratakus adalah kekerabatan matrilineal, di mana garis keturunan diambil dari pihak ibu. Sistem ini menghasilkan masyarakat yang bersuku-suku berdasarkan garis keturunan ibu, hingga ber Batin-batin dari ibu mulai dari batin Bonai di Okan, batin Sakai di Siak, batin Kurang Oso Nan Duo Puluoh di Kuantan dan Batin Kurang Oso Nan Tigo Puluoh di Kampar. Hingga kini, warisan matrilineal ini tetap terjaga di Sumatera Tengah dan menjadi bagian penting dari identitas budaya di Nusantara.
Pusat kaum suku ibu ini terletak di tiga propinsi yakni Jambi, sumbar dan Riau. Dengan bukti sejak awal bersuku dari ibu. Dan satu-satunya di dunia.
Bukti Jejak Peradaban Malayu dari Nusantara
Wilayah-wilayah lain di Asia Tenggara terhubung melalui perdagangan dan migrasi maritim, menjadikan budaya Melayu menyebar dan berasimilasi dengan kebudayaan setempat. Sebagai contoh, bahasa Malagasi di Madagaskar memiliki akar bahasa Austronesia yang berkembang di Nusantara. Di wilayah lain seperti Brunei dan Tumasik, pengaruh Melayu terlihat dalam sistem kerajaan, seni, dan adat istiadat.
Selain sebagai pusat maritim, Nusantara sebagai induk melayu yang kemudian juga menjadi penyebar nilai budaya patrilineal, yang berbasis pada adat dan agama. Prinsip adat basondi syarak, syarak basandi kitabullah menjadi landasan hidup masyarakat Melayu yang diwariskan dari pusat peradaban yakni Kedatuan Muaratakus.
Budaya Melayu menjadi ujung tombak budaya patrilineal itu berakar dari budaya matrilineal di pedalaman Sumatera tengah.
Menghargai Warisan Nusantara
Menyadari asal-usul Melayu sebagai bagian dari peradaban Nusantara penting untuk menjaga warisan ini di tengah perubahan zaman. Pusat peradaban Melayu yang berada di Sumatera Tengah merupakan bukti nyata bahwa Nusantara adalah jantung peradaban maritim dunia.
Dengan memahami akar budaya ini, kita tidak hanya melestarikan nilai-nilai luhur Melayu tetapi juga mempertegas posisi Nusantara sebagai sumber kebudayaan besar yang melampaui batas-batas negara modern. Melayu adalah kita, dan kita adalah Nusantara.







