PEKANBARU, MetroMadani – Madrasah Tsanawiyah (MTs) Muttaqin Pekanbaru yang berada di di Simpang Panam merupakan sekolah swasta madrasah yang saat ini memiliki siswa terbanyak, hampir 800 siswa di Kota Pekanbaru dan itu dari tahun ke tahun terus meningkat. Tahun pelajaran 2024/2025 ini saja siswa pendaftar di Muttaqin sudah memenuhi kuota.
Sungguhpun demikian, sekolah tidak melakukan seleksi seperti halnya sekolah negeri, namun tetap memprioritaskan calon siswa yang lebih dahulu mendaftar dan dilakukan tes mengaji dan fisik, seperti tidak bertato, rambut tidak berbigen, bertindih yang jadi tes utama disamping tes lainnya secara formal.
Kepala madrasah (Kamad) MTs Muttaqin M Zaini menceritakan, awal mula adanya sekolah ini dilatarbelakangi keinginan besar sejumlah tokoh masyarakat setempatnya akan adanya sekolah MDA sekitar Panam itu. Sehingga saat itu, tahun 90-an, murid MDA Muttaqin termasuk terbanyak di Pekanbaru. Sebab MDA jarang ada di Panam sekitar ketika itu. Ada muridnya yang datng dari Garuda Sakti, hingga ke Tobek Godang dan sekitarnya.
‘’Saya masuk kesini tahun 98, sekolah ini sudah mengantongi izin operasional tahun 1992, tentu dibawah itu sekolah ini sudah ada. Jadi, sekolah ini dulu hanya ada MDA Kecamatan Tampan ini, ramai muridnya. Karena belum ada MDA sekitarnya, karenanya banyak murid MDA maka tokoh masyarakat sini ingin membuat sekolah formal seperti MTs yang digagas Pak H Harun, Pak H Syukur, Pak Mukhtar, Pak Amirullah Lubis dan Pak H Yunus saat itu,‘’ceritanya mengawali.
Zaini mengisahkan, saat dirinya masuk, jumlah siswa MTs hanya 26 orang. Tapi tahun berikutnya tambah kurang 15 dan ada 12 orang. Artinya, lanjut Zaini, tak sebanding siswa yang keluar dan yang masuk. Bahkan, masyarakat setempat tak mau menyekolahkan anaknya disini termasuk pemuka masyaraat yang ikut menginisiasi lahirnya madrasah ini.
‘’Awal berdirinya memang demikian, ditambah pula waktu itu orang lebih suka masukkan anaknya ke SMP ditambah juga ada sekolah Alhuda sebagai saingannya disini. Itu berpengaruh saat penerimaan murid,’’ kenang Zaini.
‘’Maka berikutnya tahun 2000-an, jumlah murid kita hanya 30 orang saja, terdiri dari 5 orang kelas 3, 25 kelas 2. Sementara kelas 1 kosong. Memang sekolah ini didirikan masyarakat tempatan tapi anehnya orang tempatan pun tak mau menyekolahkan anaknya disini, termasuk pemuka masyarakat dan pengurus sekolah, sehingga dengan sedikit murid orang tentu tak berminat,’’ sebutnya lagi.
Nah, pada tahun pertama dirinya menjadi jadi kepala sekolah, tahun 2000 itu, Zaini merasakan seolah-olah madrasah ini jauh dari kesan mendidik. ‘’Saya lihat anak bebas merokok saat saya belum jadi Kamad. Saat itu saya guru akidah ahlak, saya panggil anak itu, saya beri hukuman. Dengan cara, saya beli rokok komandor dan saya hisapkan 4 batang dimulutnya masing-masing sampai habis. Nah, setelah kejadian itu mereka takut juga,’’ ujarnya mengenang.
Ironisnya, sekolah juga tak ada upacara bendera setiap Senin, kegiatan pramuka kosong. ‘’Maka waktu itu Bu Siti Dinar pendiri pramuka kita pertama tahun 2001 dimulailah oleh beliau. Sebab tahun 2000 awal itu saya jadi kepala. Dengan demikian, saya bertekad bagaimana orang mau masuk ke sekolah ini,’’ tegasnya.
Sejak saat itu pula, Zaini mulai mencari formula apa yang diperlukan masyarakat agar mau menyekolahkan anaknya ke madrasah tersebut. Maka pihaknya coba buat konsep mengedepankan pendidikan dalam segi ibadah, seperti harus ada buku control salat anak, tak solat anak di rotan lima kali. Dan itu terlebih dahulu harus dimusyawarahkan dengan orang tua siswa dan orang tua siswa pun menyambut baik.
‘’Karena itulah, kelas yang kosong tahun pertama saya jadi kepala itu, masuklah anak pindahan tujuh orang. Alhamdulillah, berisilah semua kelas kita. Kelas 1 menjadi 15 orang, mungkin karena tidak meyakinkan sekolah ini, sehingga harus ada cara tertentu dilakukan,’’ ucapnya.
Hingga sekarang jumlah siswanya mencapai 800 orang dan ruang belajar 24 kelas dari yang awalnya hanya tiga kelas. ‘’Jumlah guru kita waktu itu ada 8 orang awal saya jadi kepala dan sekarang jumlahnya semua 53 orang termasuk TU dan penjaga sekolah,’’ ungkapnya.
Diakui Zaini, saat lima tahun terakhir ini minat siswa yang masuk ke MTs Muttaqin sangat tinggi. ‘’Kalau istilahnya menolak murid itu sudah 10 tahun terakhir karena keterbatasan ruang belajar kita. Namun Kita tak pakai seleksi, siapa dulu masuk, itu kita prioritaskan terutama anak-anak kurang mampu atau menengah kebawah,’’ katanya.
Kenapa saat ini orang tua berlomba memasukkanya anaknya ke MTs Muttaqin, Zaini merasakan system pendidikan yang selama ini mereka bangun dan terapkan dengan mengutamakan ibadah dan membentuk ahlak anak dari yang dulunya tak mau ke masjid, tak mau salat dan baca Alquran sekarang menjadi rajin beribadah dan membaca Alquran.
‘’Sebenarnya orang tua ini tak minta banyak, hanya minta bagaimana ada perubahan dari sang anak. Maka kenapa orang banyak masuk kesini, seperti sekolah favorit saja. Sebab kami disekolah ini menguatkan pondasi ahlak dan ibadah anak. Sementara ekademik nomor dua la. Walau nilai rendah tak masalah,’’ jelasnya.
Sehingga dari anak yang selama ini tak mau ke masjid dan mau salat. Kini, tambah Zaini, menjadi kebutuhan dan kebiasaan bagi mereka tiba dirumah.
”Ibadah salat tahiyatul masjid dan duha seperti jadi kewajiban bagi mereka saat masuk masjid paginya, dan memang kami wajibkan. Nanti ada anak yang mengontrol dan mencatat anak kita yang ribut, yang main-main. Kita guru dan saya selaku Kepsek harus berada di situ,” sebut Zaini lagi.
Begitu juga saat Zuhur, setelah azan wajib solat sunat. Salat sunat itu 3 menit, bacaan wadduha dan Surah Attin. ”Siap Zuhur gitu juga, Ashar gitu juga. Jadi, perubahan itu yang dijual kepada orang tua dan masyarakat,” Zaini mencontohkan.
Meskipun demikian, prestasi anak-anak dibidang akademis, olahraga dan pramuka serta ekskul lainnya tak kalah mentereng dengan sekolah lainnya.
”Anak-anak kita dikenal dengan prestasi futsal, pramuka, silat, volly ball dan lainnya. Saat HAB Kemenag lalu anak kita juara futsal madrasah se Pekanbaru,” tutur Zaini lagi yang saat itu didampingi guru Mukhtar.
Terkendala RKB
Dikatakan Zaini, ruang belajar ini umumnya merupakan dibangun dari partisipasi orang tua siswa, namun sebagian ada juga ada yang bantuan pemerintah.
”Dulu pernah kita dapat bantuan rehab dua lokal. Nilainya Rp60 juta. Dengan semangat, kita bisa jadikan rehab dua lokal itu menjadi enam lokal. Berikutnya ada juga rehab 4 lokal Rp200 juta kita dapatkan tahun 2013, tapi bisa kita bangun menjadi 8 lokal dari dana block grant Kemenag ketika itu,” ungkapnya lagi.
Seiring terus bertambahnya jumlah siswa, kendala MTs Muttaqin saat ini minimnya ruang kelas baru (RKB) akibat tidak bisa lagi dilakukan perluasan tanah. ”Kita belum bisa atasi karena keterbatasan tanah,” katanya.
Dengan jumlah ruang belajar 24 lokal saat ini, kalau pun harus menambah maka dilakukan rombak kelas ke atas atau lantai dua.
Perhatikan Kesejahteraan Guru
Tidak itu saja, MTs Muttaqin juga sangat memperhatikan kesejahteraan pegawainya, baik guru maupun TU, sehingga pihaknya jelaskan honor guru termasuk yang tertinggi mereka berikan Rp60 ribu perjam dan Rp30 insentif per jam bagi guru ASN.
”Alhamdulillah, untuk kesejahteraan tidak semata honor saja tapi ada uang lain yang kita berikan, seperti uang absen dan insentif lainnya sebagai motivasi guru,” sebutnya.
Meskipun demikian, pihaknya dalam pembayaran SPP buat siswa juga tidak terlalu memberat orang tua. Hanya Rp150 per bulan dengan durasi sekolah full day, ditambah kegiatan ekskul lainnya berjalan di MTs Muttaqin.(buz)







