Info
MetroMadani.com adalah portal berita, hiburan, dan informasi | tegas | lugas | tepercaya |

Kembangkan Pondok dengan Cara Berdakwah

KUBANGRAYA, MetroMadani – Menjelang Milad ke 17 pada 2024 masehi ini pondok pesantren (Ponpes) Darul Quran yang di terletak di Jalan Kubang Raya Km 2 Jalan Raya Kubang, atau tepatnya di perbatasan antara Kota Pekanbaru dan Kabupten Kampar terus menunjukan perkembangn dan kemajuan yang signifikan dari tahun ke tahun.

Pengembangan Ponpes Darul Quran yang bertumpu kepada kurikulum Alquran sebagai pedoman hidup ummat Islam dikuatkan dengan pembelajaran kitab sebagai ciri khas pondok. Sekolah ini melaju dan berkembang memberikan ilmu agama dan umum yang sesuai dengan perkembangan zaman.

‘’Pondok kita ini berdiri dengan tujuan menciptakan kader-kader umat, mencetak pemimpin yang Qurani, berilmu, beriman, beramal soleh, beraklak mulia serta berhasil guna yang bisa langsung dirasakan masyarakat dan siap terjun ke masyarakat ,’’ Abuya KH Dr Kariman Ibrahim MA, pimpinan Ponpes Darul Quran mengawali pembicaraan dengan jurnalis Kilas Pesantren dan Madrasah, kemarin.

Dikatakan Abuya Kariman, awal-awal adanya pondok ini dulunya sekitar tahun 2004/2005 yang bermodalkan tiga ruangan kelas yang sangat sederhana dengan niat mendidik anak bangsa menjadi generasi yang insani yang beriman dan beraklak mulia tidak memiliki misi lain selain ingin mencetak anak bangsa yang cinta Alquran dan berahlak seperti Alquran.

‘’Saat itu, ada tanah di lima titik dikawasan ini. Alhamdulillah, kita dapat satu titik, yakni setengah hekter lebih sedikit. Kita beli tanahnya dan diwakafkan ke ummat. Akhirnya tahun 2005 mulailah kita gali pondasi dan sempat terhenti akibat ada getaran tsunami Aceh saat itu, getarannya saat itu luar biasa sampai kesini,’’ cerita Abuya yang mendapat sanad turunan dari sang guru, Pimpinan Ponpes Tarbiyah Islamiyah Ampek Angkek Canduong, Bukittinggi, Sumatera Barat ini.

‘’Alhamdulillah, saat itu kita dapatkan lokal tiga, satu untuk asrama, satu ruang belajar dan satu lagi untuk kantor. Dan jumlah awal santri kita hanya 18 orang. Karena masjid belum ada dan sekitar sini penuh dengan semak belukar Jalan kubang pun belum diaspal. Kalau solat Jumat itu anak-anak harus ke simpang Panam. Kadang anak numpang naik pick up orang,’’ kenang Abuya Kariman.

Nah, pada tahun 2006 maka Ponpes yang baru ada tiga ruang ini pun diresmikan oleh Gubernur Riau Rusli Zainal (RZ) kala itu, hingga sekarang sudah berkembang menjadi 21 ruang belajar. ‘’Dua tahun lalu jumlah anak kita sampai 552 orang dan saat ini lebih kurang ada 400 santri dan santriwati baik ditingkat Tsanawiyah maupun Aliyah,’’ ungkap Abuya Kariman.

Rinciannya ada ruang belajar tiga lantai, kantor, Labfor, masjid, Pustaka, Klinik Kesehatan, Aula Serbaguna, gedung asrama putra dan putri, laundry, kantin, fasilitas olahraga termasuk pengisian galon atau air isi ulang dan pangkalan gas elpiji 3 Kg yang juga terbuka untuk masyarakat sekitar. ‘’Alhamdulilah, untuk pangkalan gas dan galon air isi ulang ini, membuat ekonomi kita sekitar pesantren berputar dan sangat membantu,’’ lanjutnya.

Ada juga fasilitas rumah pengasuh pondok dan asrama serta rumah pimpinan pondok sudah tersedia didalam komplek tersebut, termasuk klinik bagi santri dan santriwati yang ada dalam lingkungan pondok yang tenaga medisnya didatangkan pondok dari luar dan ada juga dari Puskesmas setempat yang sifatnya mengontrol santri dan santriwati sekali sepekan.

Dikatakan Abuya lagi bahwa seluruh anak saat ini dipondokkan walaupun rumah atau tempat tinggalnya berada dibalik pagar Pondok sekalipun, sebab itulah ciri khas Ponpes, mereka beraktiviats belajar selama 24 jam, maka jika ada anak masuk ke pondok ini dan tidak mondok, maka pihak sekolah tidak bisa menerima.

Selanjutnya, kata Abuya, terkait ciri khas sebagai pondok ada tiga. Pertama, Ponpes Darul Quran memiliki Qiratul Kutub atau spesialis pelajaran kitab. Kedua, Alquran, bagaiman menjadikan santri dan santriwati hafiz Alquran dan ini ada yang jalur umum, ada takhasus, kelas khusus memilih dan diseleksi.

‘’Program ini baru dua tahun berjalan dan sudah ada anak kita dua orang yang hafal 30 juz, dua bulan ini tinggal lagi mengulang murojaaahnya saja dan terdapat memang ada 15 anak-anak kita penghafal Alquran di kelas khusus ini,’’ tambah Abuya.

Terkait trik dan cara pihak pondok untuk mendapatkan santri dan santriwati, Abuya Kariman sebutkan tidak memiliki cara cara tertentu, selain daripada berdakwah ke berbagai daerah, baik di 12 kabupaten kota di Riau sendiri, Sumatera Barat, Kepri hinngga ke Sumatera Utara dan sekiatarnya.

‘’Kita tak bermuluk-muluk cara mensosialisasikan pondok kita ini hingga diketahui sampai ke luar Riau, hanya dengan cara berdakwah inilah. Kita sampaikan kepada orang tua antarkanlah anak-anak ke pondok sesuai dengan paham orang tua, sebab inilah investasi kita yang sesungguhnya di dunia ini,’’ jelas Abuya singkat.

Sehingga banyak calon wali santri saat mendaftarkan anaknya ke Ponpes ini kepada panitia penerimaan santri baru mengaku mereka mengetahui sekolah ini dari dakwah Abuya Kariman lewat sebaran media atau Channel dakwah yang Abuya lakukan hingga tersebar luas di dunia maya (Medsos) disamping sebaran sejumlah brosur lewat pamflet dan media promosi lainnya.

Saat ditanya bagaimana peran serta pemerintah terhadap perkembangan pondok pesantren saat ini, Abuya menjawab bahwa pihaknya sangat bersyukur, pondok-pondok di tanah air sesuai dengan historisnya berdiri atas nama pribadi, keluarga, kelompok yayasan tumbuh dan berkembang bak cendawan dimusim hujan.

‘’Melihat perkembangan pondok-pondok pesantren itu banyak berdiri saya sangat bersyukur, umat memiliki banyak pilihan dan tentu faedanya sangat banyak juga. Saat ini, anak-anak kita tak jauh jauh lagi harus bersekolah agama sampai ke Pulau Jawa sana, ke Sumatera Barat, ke Aceh tapi cukup ke negeri kita sendiri,’’ cetusnya menggambarkan.

Seperti saat ini, para guru Ponpes Darul Quran pun banyak dari alumni Jawa, Canduong termasuk dari Riau sendiri. ‘’Ketiga, keunggulan Ponpes kita bidang sosial, bergerak dibidang penyelengaraan jenazah, anak-anak kita sudah bisa mandiri ketika ada yang wafat, seperti dulunya ada guru kita yang meninggal, anak-anak kita yang lakukan fardu kifayahnya,’’ ingat Abuya yang saat itu dirinya berada di Madinah.

Maka banyak lagi program belajar pondok dan umum yang sudah dilakukan santri dan santriwati Darul Quran. ‘’Kalau setiap petang Kamis begini ini anak-anak baca yasin bagda magrib hingga Isya, nanti bagda Isya dilanjutkan dengan solawatan atau hadroh,’’ paparnya.

Saat ini Ponpes Darul Quran ini sudah akan menamatkan santri dan santriwati angkatan ke 13 tahun ini.
‘’Disamping perguruan tinggi dalam negeri, alumni kita sudah menyebar guna mengenyam pendidikan ke Malaysia, Mesir, Sudan, Maroko, Lebanon atau negeri Syam. Tahun lalu, juga ada dua orang anak kita lulus di Mesir, malahan kemarin ada anak kita yang disewa jadi imam di Malaysia,’’ beber Abuya dengan bangga.

Terkait prestasi, Abuya menyebut cukup banyak prestasi yang sudah ditorehkan, baik dalam lomba baca kitab, lomba pidato dengan tiga bahasa, lomba bela diri, MTQ, hadroh dan bidang olahraga, sehingga hampir 75 persen alumni Darul Quran saat ini yang melanjutkan ke perguruan tinggi mendapatkan beasiswa prestasi.

Kemudian bagaimana pula perhatian pemerintah setempat terhadap pendidikan di pondok pesantren saat ini dibanding dengan sekolah umum atau sekolah negeri milik pemerintah, Abuya secara terbuka menyampaikan masih tidak sesuai antara konsep dan penerapannya dilapangan, sebagimana yang selalu disampaikan pemerintah sendiri.

‘’Sekolah negeri dan swasta sama saja tak ada anak kandung dan tak ada anak tiri. Demikian yang selalu kita dengar dari pemerintah kita hari ini. Tapi saya pelaku dan merasakan langsung apa yang diucap itu tak sesuai kenyataan sebenarnya. Saya sebenarnya merasa sedih dan sangat berbeda sekali perlakuan sekolah negeri dan swasta itu. Janganlah dibedakan antara konsep dan kenyataan, ini realitanya tak jumpa,’’ kesal Abuya.

‘’Saya termasuk orang malas juga buat proposal itu, sebab terlalu banyak ruwetnya dan dosa yang harus kita tanggung. Saya justru lebih indah dan barokah bagi saya ada pihak perorangan atau instansi itu menyumbang dan membantu satu sak semen, satu kg paku misalnya dan banyak pejabat dan membantu. Itu rasanya lebih nikmat dan barokah,’’ ujarnya.

Sehingga dana bantuan rutin pihak sekolah hanyalah dana BOS. ‘’Bantuan pesantren khusus belum ada kita dapatkan, entah tak tahu juga kawan-kawan (pimpinan pondok) lain ya. Sebab ada filosofis , anak yang baik itu anak yang tak pernah merengek kepada orang tua, tapi orang tua lah yang mengerti akan keperluan anaknya, begitu orang tua yang baik,’’ Abuya mengibaratkan.

‘’Sejauh ini, kontribusi jamaah luar biasa atas pengembangan pondok kita ini, dan lebih berkah ya, sangat nikmat rasanya dibanding kalau kita terima bantuan instansi pemerintah yang potongannya luar biasa besar, baik resmi maupun yang tidak,’’ akui Abuya Kariman.

Sungguhpun demikian, di pondok ini biaya masuk memang bayar uang pendaftaran, tapi kalau SPP tak ada bayar alias gratis. Padahal anak belajar 24 jam, hanya bayar uang makan saja Rp700 ribu per bulan, bahkan banyak yang utang belum bayar,’’ akui Abuya lagi.

Khusus anak yatim, pihak pondok juga memberikan subsidi uang makan Rp300 ribu, sementara kitab tetap dikenakan biaya. ‘’Dulu, untuk kitab ini di pondok ini kita digratiskan semua, baru tahun ini membayar kitab, karena kitab dulunya sudah robek, sudah tak layak pakai lagi, maka sekarang mulai kita beli,’’ cerita Abuya.(buz)

Settia